
Referensi, Wartatasik.com – Pandemi telah kita jalani hampir dua tahun lamanya, dan sontak merubah tatanan dan kebiasaan hidup masyarakat. Beberapa perilaku mendasar harus diubah untuk memenuhi protokol kesehatan, demi menekan penyebaran virus. Termasuk dalam penyediaan makanan untuk keluarga, terjadi perubahan yang mendasar akibat pandemi
1). Keterbatasan distribusi karena pembatasan wilayah, dan;
2) harga yang melambung yang diakibatkan suplai yang menurun.
Hal ini menyebabkan beban penyediaan makanan yang sehat bagi keluarga menjadi lebih berat, terutama untuk ibu rumah tangga.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan asupan gizi yang baik untuk keluarga dan balita adalah dengan mengarahkan masyarakat di tingkat rumah tangga untuk mandiri menyediakan protein, dengan memanfaatkan lahan pekarangan di rumah.
Budikdamber merupakan salah satu pilihan untuk mendapatkan suplai protein hewani dan sayuran secara mandiri untuk keluarga.
Budikdamber, atau Budidaya Ikan Dalam Ember, adalah metode berbudidaya ikan yang disinergiskan dengan tanaman sayuran yang dilakukan dalam wadah berupa ember.
Prinsip pelaksanaan Budikdamber sama dengan akuaponik yang mensinergikan antara budidaya tanaman dan ikan dalam satu wadah, namun budikdamber dilakukan dalam wadah yang labih kecil (ember), sehingga efisien bila ditempatkan di lahan sempit.
Selain efisien tempat, Budikdamber juga hemat energi listrik dan ramah lingkungan karena tidak memerlukan tambahan pupuk selama pemeliharaannya.
Beberapa hal yang diperhatikan untuk budikdamber yang berhasil guna adalah :
1. Jenis, sumber dan kepadatan ikan
Tidak semua jenis ikan cocok untuk dibudidayakan dalam system budikdamber. Karena kapasitas ruang yang terbatas, maka ikan-ikan yang sesuai untuk dibudidayakan dalam Budikdamber adalah jenis ikan yang tidak bersisik dan tidak memerlukan oksigen banyak dalam air, seperti : ikan lele, patin dan gabus. Ikan-ikan bersisik dan memiliki sirip-sirip tajam akan berpotensi melukai satu sama lain dalam wadah yang terbatas, sehingga tingkat kematiannya akan meningkat.
Sementara penggunaan ikan-jenis catfish (seperti lele) lebih aman karena memungkinkan digunakan dalam kepadatan yang tinggi karena tubuhnya dilindungi oleh lendir. Lendir akan melindungi tubuh ikan karena mengurangi gesekan satu sama lain sehingga ikan bebas dari luka akibat gesekan.
Selain jenis, kesehatan ikan yang digunakan juga merupakan syarat keberhasilan dalam budikdamber.
Ikan yang sehat dapat dibeli di tempat yang terpercaya, seperti Balai Benih Ikan, dan memiliki ciri-ciri seperti : warna cerah mengkilap, tidak terdapat bercak putih, gerakan lincah dan bentuk tubuhnya sempurna. Dalam satu ember volume 78 liter yang diisi air setinggi 50 cm atau sebanyak 60 liter air dapat diisi dengan benih ikan lele sebanyak 60 ekor (Nursandi, 2018).
2. Jenis tanaman
Pada dasarnya semua tanaman dapat digunakan dalam kegiatan budikdamber, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis tanaman sayuran seperti selada, kangkong, pakcoy dan sawi memiliki pertumbuhan yang baik bila ditanam dalam budikdamber. Struktur akar tanaman-tanaman tersebut berbentuk serabut halus.
Sehingga mampu menyaring unsur hara yang terdapat media budidaya. Pada gilirannya, hal ini berkaitan dengan penyediaan pupuk organik yang berasal dari feses ikan, yang membantu penyediaan nutrisi bagi tanaman.
3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan dalam system budikdamber harus diatur jumlahnya karena sisa pakan yang tidak dimakan ikan akan membusuk dan menyebabkan penurunan kualitas air. Pakan cukup diberikan 2-3 kali sehari dengan jumlah 3-4% dari bobot total ikan dalam budikdamber. Selama pemberian perhatikan respon ikan terhadap pakan.
Bila ikan sudah tidak merespon pakan, hentikan pemberian. Pakan yang diberikan pada ikan dalam system budikdamber bisa juga memanfaatkan limbah organik rumah tangga yang terlebih dahulu difermentasi.
4. Kualitas air
Peranan kualitas air dalam budikdamber sangatlah krusial, karena volume air yang digunakan sangat terbatas. Pemeliharaan kualitas air dapat dipertahankan dengan melakukan penggantian air sebesar 20-30% secara berkala sehingga air dalam kondisi yang baik untuk ikan.
Penggunaan probiotik sangat disarankan, terutama untuk mengurangi bau yang ditimbulkan, sekaligus menekan mikroba pathogen yang berpotensi menyebabkan penyakit pada ikan. Dosis yang disarankan adalah 1 ml/liter air. Kualitas air yang disarankan untuk Budikdamber adalah sebagai berikut :
Sumber : Nursandi, 2018
Pengenalan Budikdamber pada masyarakat ini disosialisikan dalam kegiatan PPM-KKN Integratif Hybrid 2022 yang dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Padjadjaran dalam bentuk webinar (22/01/2022) yang diselenggarakan kombinasi daring (untuk umum) dan luring terbatas kepada masyarakat di Desa Cikeruh-Jatinangor.
Metode penyebaran informasi secara daring memang pilihan yang paling aman dalam masa pandemi karena menghindari terjadinya kerumunan. Kawasan Jatinangor, yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sumedang, memiliki jumlah penduduk yang padat, seiring dengan berkembangnya kawasan tersebut menjadi kawasan pendidikan dengan beberapa kampus perguruan tinggi yang berada di dalam wilayahnya. Tidak kurang 4 perguruan tinggi besar yang terdapat di Jatinangor.
Pada tahun 2016 jumlah penduduk di kecamatan Jatinangor adalah 113.234 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2010-2016 adalah sebesar 4,27% (BPS 2017). Tingginya populasi dan pertumbuhan populasi di Jatinangor menjadikan tingginya produksi sampah organik di wilayah Jatinangor dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan pakan ikan.
Pakan yang dihasilkan sesuai untuk digunakan dalam kegiatan budikdamber di lingkungan masyarakat. Selain mengurangi biaya pakan, pemanfaatan limbah rumah makan akan membantu mengatasi tekanan terhadap pencemaran lingkungan akibat aktifitas masyarakat.
Webinar ini dihadiri oleh 170 orang peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, ASN di instansi perikanan, pelajar dan mahasiswa, serta stake holder dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil evaluasi kegiatan webinar menunjukkan bahwa masyarakat sangat tertarik untuk melakukan kegiatan budikdamber sebagai penyedia protein keluarga.
Penulis:Yuli Andriani (Staf Pengajar Prodi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran)